Hikayat Singkat K.H. Sholeh Iskandar, Pejuang Kebanggaan Warga Bogor
Oleh Hengky Sulaksono, pada Nov 10, 2017 | 23:57 WIB
Hikayat Singkat K.H. Sholeh Iskandar, Pejuang Kebanggaan Warga Bogor
K.H. Sholeh Iskandar.

BOGOR, AYOBOGOR.COM --  Sosok Kiai Haji Sholeh Iskandar merupakan salah satu tokoh kebanggaan warga Bogor. Nama Sholeh Iskandar harum dan diabadikan sebagai penanda sebuah jalan protokol di Kota Bogor. Di Jalan K.H. Sholeh Iskandar ini pula terdapat warisan besar lain yang ditorehkan tokoh besar ini: Universitas Ibnu Khaldun yang ia dirikan 23 April 1961 silam.

Tak cuma dua “monumen” itu yang diwariskan Sholeh Iskandar. Sepanjang hayatnya, ia merupakan sosok yang terus berjuang. Perjuangan itu ia tempuh dengan berbagai cara, membopong senjata, mendakwahkan agama, maupun lewat wadah aktivisme sosial. Tak heran jika ia kemudian dikenal sebagai sosok pejuang veteran cum ulama patriotik.

Dalam biografi Jejak Perjuangan Ulama-Patriot K.H. Sholeh Iskandar, Lukman Hakiem mencatat Sholeh Iskandar lahir di Kampung Gunung Handeleum, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, 22 Juni 1922. Ia lahir dan besar di lingkungan dengan tradisi agama yang cukup kuat. Setelah menamatkan sekolah rakyat di Bogor, Sholeh Iskandar nyantri di Pondok Pesantren Cengkudu, Kabupaten Serang, dan Ponpes Cantayan, Sukabumi.

Sebagai santri, Sholeh tak cuma mendalami ilmu agama. Sebagaimana kelompok santri lainnya pada masa revolusi, ia juga ikut terlibat aktif dalam mendorong kemerdekaan Indonesia dari para penjajah dengan berbagai cara. Tak terkecuali dengan melibatkan diri dalam perang fisik.

Persentuhan awalnya dengan dunia kemiliteran terjadi saat ia nyantri di Ponpes Cantayan. Ia pertama kali melakukan latihan militer intensif saat bergabung dalam Barisan Islam Indonesia (BII). BII yang dibentuk 1939 merupakan anak organisasai dari Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII). Organisasi ini dipimpin K.H. Ahmad Sanusi yang merupakan pembimbing Sholeh saat di Pesantren Cantayan.

Tak cuma latihan militer, Edi Sudrajat, dalam Bogor Masa Revolusi 1945-1950: Sholeh Iskandar dan Batalyon 0 Siliwangi menulis jika Sholeh juga terlibat aktif dalam membantu para petani yang dihisap tuan tanah. Agar perjuangannya terorganisir, Sholeh mendirikan sebuah koperasi bersama sejumlah kawan patriotik lain.

Pergolakan akibat praktik penghisapan tuan tanah partikelir terhadap petani cukup sering terjadi kala itu, sehingga latihan militer yang dilakukan bisa dibaca sebagai ajang persiapan dalam menghadapi letupan-letupan horizontal.

Di kemudian hari, Sholeh juga membentuk Laskar Rakyat Markas Perjuangan Rakyat Leuwiliang dan Laskar Hizbullah. Kedua laskar ini merupakan basis laskar pejuang rakyat yang beroperasi di wilayah Bogor Barat dan Banten. Setelah proklamasi dan TNI secara formal dibentuk, kedua laskar ini kemudian dilebur dan menjadi basis tentara Batalyon VI, yang lantas berubah menjadi Batalyon 0, Tirtayasa, Siliwangi sesuai Dekrit Presiden 20 Mei 1947.

Selama masa revolusi Indonesia yang penuh gejolak, Sholeh terbilang intens bersentuhan dengan bedil. Ia terlibat dalam beberapa pertempuran dengan lawan di Bogor Barat dan Banten.

Pada masa pendudukan Jepang Oktober 1945, rombongan Laskar Rakyat Leuwiliang yang dipimpin Sholeh ikut terlibat menyergap dan melucuti belasan tentara Jepang di Kracak. Selanjutnya, laskar itu juga terlibat dalam menaklukkan Jepang dan merampas sejumlah logistik dan persenjataan di gudang perkebunan Nirmala Nanggung.

Laskar pimpinan Sholeh juga beberapa kali melakukan penyerbuan terhadap markas pasukan sekutu Inggris dan Belanda yang hendak kembali menduduki Indonesia pascaproklamasi. Dalam rentang Oktober hingga akhir tahun, ia ikut terlibat dalam berbagai penyergapan, termasuk dua penyergapan markas pasukan Inggris-NICA di Kotaparis Bogor dan Loji Sindangbarang.

"Begitulah, sejak Oktober 1945, pertempuran terus berlangsung di Bogor Barat. Boleh dikatakan tiada hari tanpa kontak senjata. Kebanyakan serangan dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil secara bergerilya, hanya satu-dua kali saja dilancarkan secara simultan dan besar-besaran, mengingat peralatan tempur yang dimiliki laskar dan tentara reguler terbatas," tulis Edi.

Saat bergabung dengan TNI, prestasi Sholeh juga tak kalah gemilang. Pasukan Laskar Rakyat Leuwiliang yang ia pimpin bersama Hizbullah direorganisasi menjadi Batalyon Resimen I Singandaru, Banten. Batalyon ini mempunyai pucuk senjata yang melimpah.

Lalu nama unit berubah menjadi Batalyon VI, Tirtayasa, Siliwangi. Di kemudian hari, Sholeh menjadi komandan batalyon ini. Batalyon kembali direorganisai menjadi Batalyon 0. Walau terus berganti nama, batalyon ini tetap sangat disegani di Divisi Siliwangi lantaran semangat, daya juang, dan organisasi tempurnya yang rapi.

Edi Sudrajat membilang peran Batalyon 0 ini memegang peranan kunci dalam pemertahanan pemerintahan RI yang sah di Bogor pada masa revolusi. Batalyon ini mampu melindungi pemerintahan sah yang terpaksa mengungsi ke Jasinga dan Nanggung lantaran Kota Bogor dikuasai pemerintah Negara Pasundan bentukan Belanda.

Jenderal A.H. Nasution yang saat itu berpangkat Kolonel dan memimpin Divisi Siliwangi juga mengacungkan jempol terhadap pasukannya di front Bogor Barat. "Kami berkunjung ke front Bogor Barat, di mana Mayor H. Dasuki dari Resimen 2 bertanggung jawab. Daerah ini diperkuat oleh pasukan-pasukan asal Hizbullah, dipimpin Mayor Sholeh Iskandar," demikian Edi, mengutip otobiografi Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas.

Setelah masa perang revolusi usai dan ancaman perang senjata dianggap steril, Sholeh Iskandar memutuskan angkat kaki dari dinas militer pada 1950. Ia bersama sejumlah orang lainnya memutuskan kembali menjadi rakyat biasa.

Pensiun sebagai militer tak berarti mengakhiri pengabdian sosok ini. Sebagai sipil, jiwa patriotiknya tetap terjadi. Tercatat beberapa “monumen” di berbagai bidang diarsitekturi olehnya. Mulai dari membangun Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor, yang diakui UNESCO sebagai perumahan modern pertama di dunia ketiga setelah Perang Dunia II, terlibat mendirikan Yayasan Rumah Sakit Islam Bogor, membidani kelahiran Ponpes Pertanian Darul Falah, mendirikan perusahaan karoseri pertama di Indonesia PT Gunung Tirtayasa, hingga turut memprakarsai berdirinya Bank Perkreditan Rakyat Syariah Amanah Ummah.

Sholeh juga ikut beredar di lapangan politik dan organisasional. Ia dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia yang merupakan onderbouw Partai Masyumi tahun 1952. Di Masyumi, ia bahkan sempat diangkat menjadi salah satu pengurus pusat, sebelum partai ini dibubarkan Soekarno pada 1960.

Pergulatan di dunia politik ini pula yang membuat Sholeh merasakan dinginnya terali besi. Selama empat tahun (1962-1966) ia mendekam di penjara akibat lontaran kritiknya terhadap Soekarno yang dianggap otoriter. Ia dianggap kontrarevolusioner. Ia juga dipenjara saat masa Orde Baru lantaran mengkritik ketimpangan sosial yang semakin meruncing saat rezim berkuasa.

"Ibarat orang yang sedang berada di tengah arus besar, tangan Sholeh Iskandar tidak pernah berhenti mendayung. Dia terus berbuat. Dia terus memberi motivasi. Itu sebabnya jejak Sholeh tidak bisa dihapus. Apalagi jejak Sholeh Iskandar ternyata tidak hanya di satu jalan atau tempat saja. Jejaknya tersebar di berbagai bidang," demikian Lukman.

Benar belaka apa yang dikatakan Lukman. Pengaruh sosok ini musyikil disangkal. Dia bak prototipe pahlawan lengkap dengan paket komplit. Perjuangannya tak cuma mentok di medan tempur. Narasi heroisme Sholeh Iskandar bukanlah narasi heroisme militeristik belaka, bukan pula narasi komikal ala politisi yang kerap berlagak bak pahlawan kesiangan.

Bagi Sholeh, medan perang sesungguhnya ialah bergulat melawan kebatilan. Penjajahan tak cuma terjadi secara militeristik. Dan Sholeh mampu menangkap horizon maupun esensi penjajahan itu secara holistik.

"Porsi perjuangannya lebih banyak di masyarakat. Karena dia ikut revolusi fisiknya hanya lima tahun, dari 1945-1950. Karena dianggap secara fisik sudah selesai, perjuangannya bukan hanya mengangkat bedil. Tapi bagaimana membangun masyarakat," kata salah seorang putra Sholeh Iskandar, Didi Hilman.

Didi, yang merupakan anak keenam dari delapan bersaudara ini tahu betul tetek-bengek sosok bapaknya ini. Komitmennya terhadap perjuangan di segala lini memang benar adanya. Didi mengalami dan merasakan langsung konsekuensinya. Kesibukan Sholeh membikin dirinya tak terlampau intim dengan keluarga, meski juga tidak bisa dikatakan berjarak.

"Obsesi dia terhadap masyarakat sampai meninggal itu terus. Enggak ada jeda. Saya inget kalau di rumah itu bisa tiga, empat kali rapat dengan agenda berbeda, sehari itu," katanya.

Sebab minimnya waktu interaksi, tak banyak kesan yang bisa disarikan Didi tentang Sholeh, sebagai sosok ayah. Satu-satunya kesan yang menempel tentang Sholeh sebagai ayah ialah perangainya yang disiplin dalam mendidik. Didi masih ingat, bapaknya kerap kali membangunkan anaknya saat subuh sembari menenteng bedil. Pucuk bedil itu, ditepak-tepak pada tubuh anaknya.

"Kalau kata orang agama, dia itu istikomah. Teguh pada pendiriannya. Waktunya lebih banyak dihabiskan di masyarakat. Waktu kecil juga ditahan politik. Jarang ketemu kita," ujar Didi yang merupakan Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Islam Ibnu Khaldun ini.

Sejak setahun belakangan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Pemerintah Kabupaten dan Kota Bogor telah mengajukan permohonan pengajuan pahlawan bagi sosok ini. Namun, hingga saat ini status kepahlawanan resmi versi negara belum juga diperoleh.

Pengusulan ini bukan yang pertama kali dilakukan. Menurut Edi Sudrajat, Majelis Ulama Indonesia pernah mengusulkan Sholeh Iskandar bersama tokoh ulama lain, macam Mohammad Natsir, Sjarifuddin Prawiranegara, Kasman Singodimedjo, dan K.H. Noer Ali untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Saat masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, tiga tokoh, antara lain K.H. Noer Alie (2006), Mohammad Natsir (2008), dan Sjarifuddin Prawiranegara (2011) dianugerahi gelar pahlawan nasional. Sedangkan K.H. Sholeh Iskandar dan Kasman Singodimedjo statusnya masih dipertimbangkan, antara lain lantaran belum adanya biografi akademis mengenai tokoh tersebut.

Walau begitu, perjuangan Sholeh bukan tanpa pengakuan negara sama sekali. Seperti dicatat Lukman, pada Agustus 1995 atau tiga tahun setelah ulama ini mangkat, Soeharto menganugerahkan Bintang Jasa Nararya kepada Sholeh Iskandar. Rezim Orde Baru, secara tak langsung, mengakui kekeliruannya memenjarakan Sholeh.

Gaung perjuangan Sholeh yang tak begitu terdengar juga disebabkan faktor yang muncul dari pribadi kiai ini sendiri. Edi Sudrajat mencatat jika Sholeh Iskandar memang tak ingin dikultuskan. "Mayor Sholeh Iskandar sendiri, yang belakangan lebih dikenal sebagai ulama, tak ingin perjuangannya dikenang dan dikultuskan (dihormati berlebihan hingga seperti dipuja-puja)."

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600