Industri Kecil Menengah Harus Tatap Pasar Internasional
Oleh Hengky Sulaksono, pada Oct 18, 2017 | 13:05 WIB
Industri Kecil Menengah Harus Tatap Pasar Internasional
Pembukaan Forum Diseminasi Perkembangan Industri Internasional terkait Industri kecil dan Menengah di The Sahira Hotel, Kota Bogor, Rabu (18/10/2017). (Istimewa)

BOGOR, AYOBOGOR.COM--Perkembangan era globalisasi dan perdagangan pasar bebas melahirkan peluang sekaligus tantangan bagi berbagai pelaku usaha. Pelaku usaha di berbagai sektor dan lapisan, tidak bisa tidak, mesti menghadapi gelombang perkembangan zaman yang bersifat niscaya.

Sebab itu, para pelaku usaha ini, termasuk Industri Kecil dan Menengah, perlu mempersiapkan diri dengan berbagai cara. Tujuannya, agar para pelaku IKM ini mampu bertahan di tengah suasana panas iklim persaingan global yang lebih kompetitif.

Pelaku usaha perlu mengetahui berbagai informasi soal kemungkinan perdagangan lintas negara. Berbagai pengetahuan soal legalitas, peluang kerja sama, maupun skema ekspor dan impor barang perlu dikuasai sebagai pembekalan dalam merambah pasar global.

"Pengetahuan soal aspek-aspek legalitas maupun peluang usaha di luar negeri perlu dikuasai," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, saat membuka Forum Diseminasi Perkembangan Industri Internasional terkait Industri kecil dan Menengah di Bogor, Rabu (18/10/2017).

Forum yang diselenggarakan selama dua hari pada 18-19 Oktober ini mendiseminasikan informasi terkait kerja sama internasional yang bermanfaat bagi pengembangan IKM. Forum ini juga hendak menyusu dokumen rekomendasi pengoptimalisasian manfaat kerja sama internasional di bidang IKM.

Peserta forum berasal dari kementerian, lembaga terkait kerja sama internasional, dan asosiasi di bidang Industri. Hari pertama, forum difokuskan membahas isu kerja sama internasional bagi IKM dengan negara mitra, bilateral, multilateral, regional, serta kerja sama teknik.

Sementara hari kedua, forum fokus mendiskusikan investasi dan fiskal bagi IKM. Selain itu, juga akan digelar diskusi rekomendasi IKM dengan negara mitra yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan peluang yang ditawarkan oleh negara mitra maupun lembaga internasional.

Gati menilai sejauh ini produk-produk IKM telah mampu menguasai pasar dalam negeri. Meski begitu, Gati menyebut produk-produk IKM ini masih tersegmentasi bagi kalangan menegah ke bawah. Sementara masyarakat kalangan menegah-atas, kata Gati, masih belum tersentuh dan lebih sering mengonsumsi barang impor dari berbagai lapisan usah, termasuk IKM luar negeri.

Langkah tersebut, katanya, harus diikuti para pelaku IKM dalam negeri. IKM dalam negeri dituntut mulai menjajaki peluang usaha di pasar global. Selain dari sisi pelaku usaha, ia juga mengatakan pemerintah perlu terus menggulirkan berbagai kebijakan yang mendukung pelaku IKM merambah pasar global.

"Kebijakan pemerintah untuk mendukung IKM agar ikut berperan dalam rantai pasar global juga tak kalah penting untuk ditingkatkan. Saat ini pemerintah juga terus berupaya meningkatkan citra IKM sebagai produk lokal yang menarik untuk pasar global,” ujar Gati.

Sejauh ini, menurut Gati, pemerintah telah menerbitkan beberapa kebijakan yang bertujuan memberi kemudahan terhadap para pelaku IKM. Salah satunya ialah fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor IKM yang dikeluarkan Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

Fasilitas ini memungkinkan para pelaku IKM tidak dibebani bea masuk saat mengimpor barang baku perduk IKM. Syaratnya, produk yang dihasilkan dari bahan baku tersebut harus diekspor.

Selain itu, Ditjen IKM juga menerbitkan fasilitas e-Smart IKM yang menjadi pengantar para pelaku usaha lebih intensif memasarkan produk secara daring. Fasilitas ini merupakan sistem database terpadu terkait profil industri, sentra, dan produk IKM yang diintegrasikan dengan pasar.

Ia menyebut jika e-Smart membantu pemasaran produk IKM melalui e-commerce atau promosi daring. e-Smart juga dinilai bakal mengefektifkan dan mengefisienkan biaya promosi dan pemasaran para pelaku IKM.

Di luar aspek teknis, Ditjen IKM juga telah mengupayakan oeningkatan kualitas produk IKM dalam negeri. Upaya itu ditempuh salah satunya dalam Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular sejak tahun 2012.

Kegitan kerja sama ini mencakup pelatihan dalam meningkatkan pembinaan industri internasional IKM di berbgai bidang, antara lain teknologi pengolahan dan diversifikasi pangan yang bekerja sama dengan negara Liberia dan Mozambik, teknologi pengolahan tekstil dengan Laos, penumbuhan wirausaha baru IKM dengan Seycelles, pembangunan kapasitas, dan penerapan Gugus Kendali Mutu dengan Timor Leste.

"Untuk bisa berhasil di pasar global, kita tidak bisa sendirian. Kita harus kerja sama dari berbagai sektor. Enggak cuma kualitas produk saja yang ditingkatkan, tapi juga kemampuan membaca permintaan pasar harus ada. Hasil pengembangan Litbang Kementerian (Perindustrian) juga harus digunakan untuk mendorong industri," kata dia.

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600